AUTOBIOGRAFI

 

   Namaku Deliana Mandasari. Aku lahir di Majalengka, 07 November 2004. Namun sekarang, aku tinggal di Kuningan Jawa Barat. Aku tidak memiliki adik ataupun kakak di dalam keluarga intiku alias anak tunggal. Ayahku bernama Eman Sulaeman adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Satuan Polisi Pamong Praja dan ibuku bernama Wiwi Windiasari seorang guru di tingkat SD.

    Sejak kecil, aku selalu menjadikan ayahku sebagai role modelku. Aku selalu bangga dan ingin menjadi seperti ayahku di kemudian hari. Banyak sifat positif yang dapat aku tiru dari ayah. Contohnya adalah dia orang yang pekerja keras, disiplin, dan royal. Tetapi tidak ada manusia yang sempurna. Sangat disayangkan bahwa sedari aku kecil, ayahku kurang pandai mengekspresikan apa yang dia rasakan kepadaku ataupun ibuku. Karena dia tidak terbiasa akan hal itu. Dapat dibilang ayahku sosok yang kaku dan jarang sekali terlihat tertawa saat kita sedang bersama.

Kalau berbicara tentang ibu, aku sangat bersyukur sekali memiliki sosok ibu seperti dirinya. Dia sangat perhatian, selalu menyayangiku, dan doa-doanya selalu menyertai di setiap langkahku. Terlepas dari kelebihan ataupun kekurangan ayah maupun ibu, aku sangat berterimakasih kepada mereka,  kalau bukan karena mereka, aku tidak akan sampai di titik ini.  Titik dimana aku sudah melewati masa kecil hingga remaja, dimana aku belum bisa membaca, dan menulis hingga aku bisa melakukannya, dan masih banyak lagi jasa-jasa mereka yang tidak bisa aku sebutkan satu-persatu. 

    Berbicara mengenai pendidikan. Jenjang awal yang aku ikuti adalah TK Al-Fadhilah Babatan Kadugede, yang berada di kotaku yaitu kuningan. Pada saat itu beberapa kali aku mengikuti lomba mewarnai dan menggambar. Syukurnya, aku memenangkan tiga kali perlombaan yang ada di tingkat TK ini.

Setelah lulus TK, aku melanjutkan pendidikan di MI PUI Cigadung yang letaknya dekat dari rumahku. Pada masa itu, aku lumayan banyak mengikuti lomba. Dimulai dari lomba badminton, lomba IPA, hingga lomba CALISTUNG (Baca Tulis Hitung) kelas 1,2,3. Alhamdulillah pada saat itu aku mendapatkan juara 2 di lomba CALISTUNG, juara 2 badminton tingkat MI se-Kabupaten, dan juara 3 lomba IPA.

Beralih ke masa SMP, aku disekolahkan di SMP BINAUL UMMAH CIPARI KUNINGAN oleh orang tuaku. Ya benar, aku dimasukkan ke dalam salah satu pesantren yang masih ada di daerahku juga. Aku ingat bagaimana rasanya disana, sedih sekali ketika pertama kali jauh dari orang tua. Ketika berpisah dengan orang tua, seringkali aku dan temanku menangis karena masih belum terbiasa dengan keadaan itu.

Teramat banyak memori bertebaran dalam otakku tentang masa-masa itu. Mulai dari moment bahagia, sedih, takut, hingga tertekan pun pernah dilalui. Bahagia ketika aku beruntung dipertemukan dengan orang yang sangat berharga untukku, yaitu sahabat-sahabatku. Bersyukur ketika melewati moment-moment sulit di kehidupanku, mereka selalu ada. Tanpa mereka, belum tentu aku bisa bertahan tinggal di sana. Salah satu moment sedihnya adalah ketika uang bulananku habis bersamaan dengan makanan cadangan yang ada di dalam tas belanjaanku. Tetapi untungnya orang tuaku selalu pengertian dan mau mengirimkan uang maupun makanan jika aku mengatakan kurangnya kebutuhanku lewat telepon.

Di SMP, aku mengikuti organisasi paskibra pada awal kelas 7. Tetapi karena terlalu padat dan sedikit mengganggu waktuku dalam belajar dan menghafal al-qur'an, akhirnya aku mengundurkan diri sebelum ikut organisasi tersebut terlalu lama. Aku berpindah ke organisasi yang dimana jadwal nya lebih fleksibel untukku, yaitu pramuka. Intinya, selama tiga tahun itu adalah hal yang tidak dapat dilupakan olehku. Aku sangat bahagia. Mungkin kalau bisa kembali ke masa lampau, sepertinya aku akan memilih ke masa itu.

    Setelah SMP, aku melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 2 Kuningan. Memasuki masa SMA ini, sistem sekolah yang digunakan berbeda dari biasanya. Semua murid diharuskan mengikuti kelas secara daring atau online. Tidak ada pembelajaran secara langsung di sekolah. Hal ini dikarenakan adanya virus corona yang tersebar dari negara China. Akibatnya semua orang dilarang untuk banyak keluar rumah, diharuskan memakai masker medis, dan lain-lain. Menurutku, virus corona sangat merugikan bagi siswa. Karena menimbulkan keterbatasan entah itu kuota dan lain sebagainya, kurangnya pemahaman materi yang diberikan oleh guru, dan tidak bisa menjalin komunikasi dengan teman secara langsung.

     Tetapi syukurnya, di pertengahan kelas 2 SMA, sekolah mulai dilakukan secara luring kembali. Aku bisa merasakan bagaimana masa putih abu yang sebenarnya. Aku juga mengikuti ekskul sastra. Dimana ekskul tersebut memfokuskan untuk belajar membaca puisi, kabaret, drama, story telling, stand up comedy, dan public speaking. Ya walaupun sebenarnya hobiku itu adalah bermain badminton. 

Teman-teman yang asyik aku dapatkan disana. Hingga tiba saatnya aku sudah naik ke kelas 3, kelas tingkat akhir di SMA. aku merasa cemas akan hal yang akan aku hadapi di masa mendatang. Banyak sekali tugas yang diberikan kepadaku selaku siswa akhir. Tak lupa, ujian tulis pun menanti. Semua aku hadapi dengan penuh persiapan dan banyak berdoa.

Saat tiba di hari kelulusan. Aku dan teman-temanku saling berpelukan penuh haru. Itu adalah hari terakhir aku bersama teman-teman untuk mengukir moment indah di masa putih abu. Tak dapat dipungkiri, sampai saat ini aku masih sangat rindu kenangan di SMA.

    Setelah lulus SMA, karena sedari kecil cita-citaku sangat ingin menjadi abdi negara. Akhirnya aku mencoba mengikuti tes sekolah kedinasan yang berada dalam bidang perhubungan darat yaitu PTDI-STTD. Banyak tes yang aku jalani untuk dapat masuk ke sekolah tersebut. Mungkin jika dihitung, tes yang sudah ku jalani adalah sebanyak 7 kali. Setiap tahap tes diberlakukan sistem gugur. Sampai dimana aku berada di tahap paling akhir yaitu pantukhir, ternyata aku gagal.

     Namun, aku menyadari mungkin belum rezeki ku untuk menempuh pendidikan disana dan aku tidak boleh terlarut dalam bayang-bayang  kegagalan itu. Langkah selanjutnya, orang tua ku mengusulkan untuk melanjutkan pendidikan di salah satu universitas yang ada di Kuningan. Aku masuk ke Universitas tersebut, yaitu Universitas Kuningan. Aku memilih prodi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Bahasa Inggris adalah salah satu bahasa yang aku sukai dan ingin aku pelajari lebih dalam, maka dari itu aku memilih prodi tersebut.

Komentar